Hidayah bisa datang kepada siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Tak terkecuali Bisyir bin Harits, seorang pemuda yang gemar minum-minuman keras.
Bisyir bin Harits benar-benar datang. Ia menempati janji seperti yang
disampaikan kepada saudara perempuannya. Namun kemunculannya terlihat
lain, ia limbung seperti halnya orang yang tengah kebingungan.
Belum lagi duduk atau berkata sepatah katapun untuk basa-basi, Bisyir
malah melenggang meninggalkan ruang tamu, “Saya akan naik ke atas,”
begitu kata Bisyir tanpa basa-basi, membuat saudara perempuannya heran.
Keheranan saudara perempuan Bisyir kian bertambah. Pasalnya setelah
melewati beberapa anak tangga menuju ke loteng, Bisyir berhenti. Ia
terdiam di sana sampai saat subuh tiba.
“Mengapa sepanjang malam tadi engkau hanya berdiri di tangga itu?” tanya saudara perempuan Bisyir sesaat setelah Bisyir selesai melaksanakan shalat subuh.
“Ketika saya baru naik, tiba-tiba muncul pemikiran dalam otakku. Di
Baghdad ini banyak orang yang memiliki nama Bisyir, ada yang Yahudi,
Kristen, Majusi. Aku sendiri seorang muslim yang bernama Bisyir. Saat
ini aku mendapat kebahagiaan yang besar. Aku bertanya dalam diriku:
Apakah yang telah aku lakukan ini sehingga mendapat kebahagiaan
sedemikian besar, dan apa pula yang selama ini mereka kerjakan sehingga
tidak mendapat kebahagiaan seperti yang kudapat? Itulah yang membuatku
berdiri di tangga itu sepanjang malam tadi,” kata Bisyir kepada suadara
perempuannya.
Tingkah aneh yang dilakukan Bisyir tidak itu saja. Orang-orang yang
mengenalnya mengetahui, hampir separuh hidup Bisyir dijalani dengan
penuh keanehan.
Suatu ketika cuaca sangat dingin, orang-orang yang tidak kuat dengan
cuaca itu merangkap bajunya beberapa lembar, tapi Bisyir malah melepas
bajunya yang dipakai hingga menggigil kedinginan.
“Mengapa engkau melepas bajumu wahai Abu Nashr, bukankah engkau
menggigil kedinginan. Lihatlah orang-orang itu, mereka mengenakan baju
berlapis-lapis,” kata salah seorang sahabat yang merasa aneh dengan
tingkah Bisyir.
“Aku teringat pada orang-orang miskin, betapa menderitanya mereka
saat ini, sementara aku tidak punya uang untuk membantu mereka, karena
itu aku turut merasakan penderitaan seperti yang mereka rasakan saat
ini,” kata Bisyir. Sahabatnya tidak bisa berkata-kata.
Di waktu yang lain, Bisyir berjanji hendak mengunjungi Ma’ruf, salah
satu sahabatnya. Mendapati janji tersebut Ma’ruf dibuat girang. Dengan
sabar Ma’ruf menunggu kedatangan Bisyir hingga waktu dluhur tiba, Bisyir
belum juga tiba hingga usai shalat Asar.
Bahkan setelah menunaikan salat Isya pun, Bisyir belum juga tiba. Ma’ruf
tetap bersabar menunggu kedatangan Bisyir, Ia yakin Bisyir tidak
mungkin mengkhianati janjinya. Harapan dan kesabaran Ma’ruf tidak
sia-sia. Ketika malam semakin larut, ia melihat Bisyir dari kejauhan,
tanangannya mengapit sebuah sajadah.
Saat sampai di Sungai Tigris, Bisyir menyebrang sungai itu dengan
cara berjalan di atas air. Hal sama dilakukannya ketika hendak pulang
saat waktu subuh tiba setelah mereka berbincang sepanjang malam. Seorang
sahabat Ma’ruf yang menyaksikan kejadian itu mencoba mengejar Bisyir,
kepadanya ia minta didoakan, setelah mendoakan sahabat Ma’ruf sesuai
yang dimintanya, Bisyir berpesan agar apa yang dilihatnya itu tidak
diceritakan kepada siapapun. Dan orang itu tetap menjaga rahasia
tersebut sepanjang masa hidup Bisyir.
Di lain kesempatan Bisyir kedatangan sekelompok orang dari Syiria. Mereka bermaksud mengajaknya menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Namun ajakan itu tidak serta merta dipenuhinya. Kepada tamunya itu
Bisyir mengajukan syarat: Pertama, mereka tidak dibolehkan membawa bekal
apapun. Kedua, mereka tidak boleh meminta belas kasihan orang lain
dalam perjalanan. Ketiga, jika ada orang yang melihat karena iba dan
kasihan kepada mereka, mereka tidak diizinkan menerima pemberian itu.
Tawakal kepada Allah
“Pergi tanpa perbekalan dan tidak boleh meminta-minta dapat kami terima,
tapi apabila orang lain memberikan sesuatu mengapa tidak boleh
menerimanya,” tanya salah seorang dalam rombongan itu.
Mendengar kekhawatiran tersebut, Bisyir pun menjawab, “Sebenarnya
diri kalian tidak memasrahkan diri kepada Allah, tapi kepada perbekalan
yang kalian bawa.”
Pada saat yang lain datang seorang lelaki datang minta nasihat pada
Bisyir, lelaki itu memiliki uang sebanyak 2000 dirham, yang halal dan
akan digunakannya untuk melaksanakan haji.
Kepada orang itu Bisyir malah berkata, “Apakah engkau hendak
bersenang-senang? Jika engkau benar-benar bermaksud membuat Allah suka,
lunasilah hutang seseorang, atau berikan uang itu kepada anak yatim,
atau kepada orang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang diberikan
kepada jiwa seorang muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali
menunaikan ibadah haji.”
Mendengar nasihat itu, laki-laki itu menjawab, “Walau demikian aku lebih
suka jika uang ini kupergunakan untuk menunaikan ibadah haji.”
“Itulah bukti, engkau telah memperolehnya dengan cara tidak halal,
maka engkau tidak akan merasa senang sebelum menghabiskannya dengan
cara-cara yang tidak benar,” kata Bisyir kemudian.
BismillahKeanehan dan kealiman Bisyir tidak terlepas dari pengalaman
relijius yang pernah dialaminya. Sewaktu muda, Bisyir dikenal sebagai
seorang pemabuk. Suatu malam ia berjalan seorang diri dengan sempoyongan
karena mabuk minuman keras. Di tengah perjalanan ia menemukan secarik
kertas bertuliskan kalimat “Bismillahirramanirrahim”. Antara sadar dan
tidak, ia lantas membeli minyak mawar yang dipakainya memerciki kertas
itu untuk disimpannya.
Setelah kejadian itu, di suatu malam ada seorang ulama yang bermimpi
bahwa ia diperintah Allah agar menemui Bisyir, dengan menyatakan,
“Engkau telah mengharumkan namaku, maka Aku pun telah mengharumkan
namamu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka aku pun telah memuliakan
dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka aku pun telah menyucikan
dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya kuharumkan namamu, baik di dunia
maupun di akhirat.”
Namun, karena ia mengenal Bisyir sebagai sosok pemuda berandal, lelaki
itupun langsung melanjutkan tidurnya setelah ia bersuci. Tapi ia
menemukan mimpi yang sama hingga tiga kali.
Keesokan harinya ia pergi menemui Bisyir, yang tengah menghadiri pesta
minuman keras. Ia ceritakan sebuah pengalaman dan perintah Allah yang
mesti dikerjakannya. Sejak itu, atas izin dan perkenan Allah, Bisyir
langsung berubah. Namanya tidak lagi disebut dalam pesta anggur, apalagi
sampai ia datang ke pesta maksiat itu.
***
Kisah yang lain menyebutkan, Bisyir sempat bertemu Rasulullah SAW dalam
tidurnya. Rasulullah mengatakan kepadanya alasan mengapa Allah memilih
sebagai hamba yang dimuliakan. Karena dia selalu mengikuti sunah Nabi
SAW, memuliakan orang yang saleh, memberi nasihat yang baik kepada
saudara-saudaranya, dan mencintai Rasulullah dan keluarganya.
Pada kesempatan lain Bisyir sempat meminta nasihat pada sahabat Ali bin
Abi Thalib melalui mimpinya. Sahabat Ali pun memberinya nasehat. “Belas
kasihan orang kaya kepada orang miskin, karena berharap pahala dari
Allah adalah perbuatan baik. Tapi lebih baik lagi bila orang-orang
miskin itu enggan menerima pemberian orang kaya karena percaya kepada
kemurahan Allah.”
Begitulah kisah hidup Abu Nashr Bisyir bin Al-Harits Al-Hafi. Meski
sempat menjadi brandal dan pemabuk semasa mudanya, hamba Allah yang
saleh yang lahir di Kota Merv (Persia) pada 150 H / 767 M ini segera
berubah setelah hidayah itu diperolehnya. Ia tinggalkan segala
kesenangan di dunia, lalu belajar hadits di Baghdad. Ia meninggal pada
227 H. Karena kesalehannya, Imam Ahmad bin Hambal, pendiri mazhab
Hambali, pun ikut menghormati dan mengaguminya.
Referensi Kisah Alkisah Nomor 08 / 11-24 April 2005, http://www.sufiz.com
Thinking Majority

Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
Wednesday, October 31, 2012
Monday, September 24, 2012
Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat
JANGAN SIA-SIAKAN PAHALA SEMBAHYANG FARDHU JUMAAT HANYA KERANA
TELEFON BIMBIT
Oleh : Mufti Brunei
(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)
Dalam era perkembangan sains dan teknologi zaman ini, berbagai-bagai peralatan baru dan canggih muncul bagaikan cendawan.
Salah satu daripada peralatan tersebut, yang dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa kini ialah telefon bimbit. Tidak dinafikan bahawa tuntutan keperluan hidup di zaman yang serba canggih dan moden ini menjadikan penggunaan telefon bimbit seakan-akan satu kemestian kerana kewujudannya banyak
membantu mempermudahkan tugas dan pekerjaan. Di samping itu, ia juga mampu mempermudahkan perhubungan sesama kaum keluarga, sanak-saudara, rakan-taulan dan sebagainya. Selain aplikasi-aplikasi perhubungan, terdapat juga berbagai jenis dan bentuk aplikasi yang lain seperti aplikasi-aplikasi peringatan waktu sembahyang, penunjuk arah qiblat, maklumat, berita, permainan game dan sebagainya yang boleh diakses dengan beberapa petikan jari sahaja.
Penggunaan telefon bimbit ini tidaklah menjadi kesalahan selama mana kemudahannnya tidak digunakan ke arah sesuatu yang menyalahi hukum Syara‘. Namun apa yang merungsingkan, keghairahan terhadap penggunaan telefon bimbit ini ada kalanya boleh menyebabkan sebilangan orang lalai dan terlalu asyik
sehingga mereka sentiasa membawa dan menggunakannya tanpa mengira kesesuaian masa dan tempat.
Bahkan ada kalanya ketika sembahyang pun telefon bimbit ini akan dibawa bersama tanpa mematikan (switch off) atau menutup bunyinya terlebih dahulu. Maka akan kedengaranlah bunyi-bunyi nada dering dan sebagainya yang pastinya akan mengganggu kekhusyukan pemiliknya dan kekhusyukan jemaah yang lain jika bersembahyang jemaah.
Bukti yang paling nyata dapat dilihat dengan jelas ketika perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat. Ketika khatib sedang membacakan khutbah Jumaat, akan kelihatan segelintir jemaah tanpa rasa segan silu menggunakan telefon bimbit untuk menghantar pesanan ringkas (sms), berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial, melayari halaman internet, bermain game dan sebagainya. Apakah pandangan Syara‘ mengenai perkara ini?
Tuntutan Diam Ketika Khatib Membaca Khutbah Jumaat
Khutbah merupakan salah satu daripada lima syarat sah Sembahyang Fardhu Jumaat. Ia adalah wasilah terbaik untuk menyampaikan dan menerima nasihat, peringatan serta mesejmesej ukhrawi dan duniawi kepada masyarakat Islam. Ini kerana pada hari Jumaat, kaum muslimin duduk berhimpun dan sembahyang bergandingan di antara satu dengan yang lain, tanpa mengira bangsa, pangkat ataupun rupa.
Sunat bagi orang yang menghadiri Sembahyang Fardhu Jumaat menghadapkan muka ke arah imam (ke arah qiblat) kerana menurut Imam Khatib Asy-Syarbini Rahimahullah, ini adalah adab, dan selain itu ianya sekaligus membolehkan mereka tetap menghadap qiblat. Perbuatan ini juga sekaligus lebih mempermudahkan seseorang itu untuk menumpukan sepenuh perhatian terhadap khutbah Jumaat yang disampaikan oleh khatib.
Disunatkan juga bagi jemaah untuk diam dan mendengar khutbah Jumaat dan makruh bagi mereka berkata-kata sepertimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
Maksudnya: “Jika engkau mengatakan kepada sahabatmu “dengarkanlah (khutbah)” padahal imam pada waktu itu sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah berkata sia-sia.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Maksud “sia-sia” di sini ialah bertentangan dengan sunnah, adab, dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.
Dapatlah difahami daripada hadits ini bahawa apa pun jenis katakata mahupun perbualan adalah dilarang sama sekali ketika khutbah Jumaat sedang dibacakan atau disampaikan. Ini kerana jika kata-kata seorang jemaah yang menyuruh seorang jemaah yang lain supaya diam dan mendengar khutbah itu pun sudah
dikategorikan sebagai sia-sia, sedangkan perbuatan itu merupakan satu suruhan ke arah kebaikan, maka apatah lagi kata-kata biasa atau perbualan kosong semata-mata.
Akan tetapi tidak makruh ke atas orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata jika terdapat darurat, misalnya kerana hendak menyelamatkan orang buta yang hampir terjatuh ke dalam parit atau ternampak binatang berbisa seperti kala jengking atau ular menghampiri seseorang. Maka dalam hal seperti ini, tidaklah dilarang orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata, bahkan wajib baginya melakukan demikian. Akan tetapi lebih baik (sunat) baginya untuk menggunakan isyarat sahaja jika dia mampu mengelakkan daripada berkata-kata.
Menurut Imam An-Nawawi Rahimahullah, bagi mereka yang dapat mendengar khutbah, diam mendengarkan khutbah Jumaat itu adalah lebih utama daripada membaca al-Qur’an, berzikir dan
sebagainya. Ini kerana terdapat qaul (pendapat) yang mengatakan bahawa diam untuk mendengar khutbah Jumaat itu adalah wajib.
Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengar khutbah pula, misalnya kerana duduk jauh daripada imam ataupun suara imam tidak dapat didengar, maka adalah lebih utama baginya pada ketika itu membaca al-Qur‘an terutamanya Surah Al-Kahfi, bersalawat, bertasbih, berzikir dan sebagainya dengan suara yang perlahan supaya tidak mengganggu jemaah-jemaah yang lain.
Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat
Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiyaskan kepada maksud sebuah hadits sahih yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
Maksudnya: “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Sembahyang Fardhu Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia”. (Hadits riwayat Muslim)
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jelas telah menegaskan bahawa barangsiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia. Maksud “sia-sia” dalam hadits ini sepertimana yang telah diterangkan sebelum ini ialah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.
Menurut ulama, larangan dalam hadits tersebut tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja, bahkan larangan tersebut menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan ini adalah lebih buruk lagi daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti
bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukan dan menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.
Jadi sangat jelas di sini bahawa perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan sunnah dan adab yang menuntut kita supaya diam dan meninggalkan segala perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Oleh
itu, perbuatan ini sayugianya ditinggalkan kerana ianya mengakibatkan kerugian yang sangat besar, iaitu kehilangan pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat.
Perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat itu bukannya lama, tidak ada kerugian apa-apa jika telefon bimbit ditutup seketika atau langsung tidak perlu di bawa ke dalam masjid. Tinggalkanlah buat seketika segala perkara dan urusan duniawi yang kurang penting apatah lagi yang sia-sia. Hadirkanlah hati dan seluruh anggota tubuh badan zahir dan batin, dan isikan seluruh jiwa raga dengan perisian rasa khusyu‘, taat, taqwa dan penghambaan yang mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘aala untuk mendengarkan khutbah dan seterusnya mendirikan Sembahyang Fardhu Jumaat.
Penjelasan sepenuhnya boleh dibaca di sini : http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2011/bil27-2011.pdf
Tuesday, July 10, 2012
Rindu Rasulullah

para sahabat bertanya kepada beliau Saw,
“Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu ya Rasulullah?”
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau Saw
“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.
“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.
Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau Saw
“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”
Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”
السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ
Share this post to other.
Saturday, June 2, 2012
Sholawat Ismul Alaihil A'dzhami
As-Syaikh Al Qutb Muhammad Taqiyudin Ad-Dimsyiqi
Ini shalawat As-syekh Al-Arif Al-Imam As-sayyidi Muhammad Taqiuddin Ad-Damsyiq ( Shahib Aqidatul Ghaib wa Thariq Rijalul Ghaib Qodasallahu Sirrohu wa Nafa`na bihi.Amin ) Tertulis dalam kitab Saadatud Dara`in karya Syekh Yusup bin Ismail An-Nabhani. Sholawat inilah yang sering digunakan sebagai wasilah untuk bertemu dengan Nabiyullah Khidir AS. Allohumma inni as-aluka bismikal A’dhoomil maktuubi min nuuri wajHikal a’laa al-mu-abbadid-daa-imil baqiil mukhollad. Fii Qolbi nabiyyika wa rosuulika Muhammad.
Wa as-aluka bismikal a’dhoomi waahidi biwahdatil ahadil muta’aalii ‘an wahdatil kammi wal’adad.Al-Muqoddasi ‘an kulli ahaad. Bihaqqi…( baca surah Al-Ikhlas dari Basmalah sampai akhir surat ). An tusholliya ‘alaa Sayyidina Muhammadin sirri hayatil wujuudi was-sababil a’dhoomi likulli maujuudi sholaatan tu-tsab-bitu fii Qolbil Iimaani wa tuhaffidhunil Qur-aan, wa tufah-himunii minhul ayaati wa taftahuli bihaa nuurol jannati wa nuuron na’iim wa nuuron nadhoori ilaa wajhikal kariimi wa ‘alaa alihi wa shohbihi wa sallim.
Terjemah dan ma’nanya :
`Ya Allah aku mohon kepadaMu dengan AsmaMu yang Agung, yang tertulis dari cahaya wajahMU yang maha Tinggi dan maha Besar, yang kekal dan abadi, di dalam kalbu Rasul dan NabiMU Muhammad SAW.Aku memohon dengan AsmaMU yang Agung dan Tunggal dengan kesatuan yang manunggal, yang Maha Agung dari kesatuan jumlah, dan maha Suci dari setiap sesuatu, dan dengan hak BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM. QULHUALLAHU AHAD. ALLAHUSSHOMAD. LAM YALID WALAM YULAD WALAM YAKUL LAHU KUFUWAN AHAD. Semoga Engkau limpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad SAW, rahasia kehidupan yang ada, sebab terbesar bagi semua yang ada, dengan shalawat yang menetapkan iman dalam dadaku, dan mendorongku agar menghapalkan Alquran, dan memberikan pemahaman padaku akan ayat-ayatnya, membukakan padaku dengannya cahaya surga dan cahaya nikmat, serta cahaya pandangan kepada wajahMu yang Mulia, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.Limpahkan pula salam sejahtera padanya.`
Dalam satu risalahnya tentang Ismul A`dhom disebutkan faedah tasarruf dengan shalawat ini mengandung rahasia luar biasa, antara lain :
1. Jika dibaca 100x tiap hari akan mendapatkan kedudukan wali dari Auliya Allah. 2. Apabila dibaca 1000x tiap hari, engkau akan dapat memberi nafkah secara ghaib.Dengan kata lain bila ada keperluan masukkanlah tanganmu kedalam satu, maka akan engkau dapatkan yang engkau perlukan. 3. Untuk membinasakan orang zholim, dibaca pada malam sabtu 1000x maka engkau akan melihat keajaibannya, kebinasaannya.( hati-hati jangan sembarangan, bisa kena diri sendiri ) 4. Untuk mencegah perampok dan musuh yang banyak, ambillah segenggam tanah dari bawah telapak kaki sebelah kiri, bacakan shalawat ini 7x, tiupkan pada tanah tersebut ( dijampikan ) dan lemparkan kearah dimana musuh/perampok berada, akan terjadi kebinasaan pada mereka seketika. 5. Untuk mengembalikan barang hilang dam melunasi hutang, bacalah tiap hari 7x.Tiap mulai satukali diniatkan pahala yang engkau baca dihadiahkan keHadratun Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, serta pada Rijalul Ghaib dan Ashaabun Naubah dan kepada pemimpin mereka. Dan berniat bila hajatmu tercapai engkau bersedekah dengan makanan dan pahalanya untuk mereka. Atau kau dapat memberi makan orang miskin sebagai terima kasih kepada Allah karena barokah merekalah dan shalawat ini sehingga hajatmu tercapai.Insya Allah. 6. Untuk sakit kepala, demam, sakit mata, migran ( sakit kepala sebelah ) dibacakan pada air mawar 7x dan diminumkan pada sisakit.Insya Allah sembuh ! 7. Untuk melancarkan air susu bagi manusia atau hewan ternak, ambil air dari mata air ( sumur ) baca shalawat ini 7x diusapkan pada teteknya dan diminum, maka air susunya akan banyak.Insya Allah. 8. Untuk kencing tersumbat ( kencing batu ) dan wanita yang akan melahirkan ( susah melahirkan ) dibacakan seperti diatas. 9. Untuk sesak nafas, medu, rasa takut, sering mimpi yang tidak enak/menakutkan, masuk angin, sakit dada, TBC, sulit tidur bikinlah air jampian seperti tadi dan dikerjakan / diminum MALAM HARI. 10. Dibaca untuk perempuan/laki-laki agar cepat menemukan jodohnya, dibikin air diminumkan pasti banyak yang menyukainya dan cepat menemukan jodohnya. Sudah dibuktikan !! 11. Bila didawamkan/rutin dibaca 100x setiap hari selama 40 hari, engkau akan menjadi seorang Arif mungkin Kasyaf. 12. Untuk wanita yang menginginkan anak/mandul dibaca diair seperti diatas pada MALAM JUM`AT dan diminumkan kemudian dicampur oleh suaminya pada malam itu juga, dia akan hamil, Insya Allah yang telah dicoba pada air untuk diminumkan dan dimandikan.
Catatan Semua faedah shalawat tersebut kami dapatkan dari dalam kitab Saadatud Dara`in karya Syekh Yusup bin Ismail An-Nabhani dengan terjemahan dari Syaikhina Habib Muhammad bin Ali bin Ahmad Syihab.
Wednesday, May 30, 2012
Adakah Mi'raj RasuluLLah Menunjukkan Allah Ta'ala di Langit ?
Mi’raj Rasul Tidak Menunjukkan Allah Ta’ala di Langit
Sebagian pihak yang berkeyakinan bathil bahwa Allah berada di langit berpedoman kepada hadits yang menjelaskan mi’raj Rasulullah Shallallahu Alahai Wasallam. Bagaimana para ulama menjelaskan masalah itu?
Sebelum masuk ke pembahasan ini, perlu diketahui juga bahwa mereka yang
berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit didasari oleh keyakinan
bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di saat mi’raj menyaksikan
dzat Allah dengan mata. Jika demikian, dasar yang dijadikan pijakan
sudah rapuh sejak awal, karena para ulama bahkan sahabat Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam sudah berbeda pendapat dalam masalah ini.
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang berpandangan bahwa Rasulullah
Shallallallahu Alaihi Wasallam menyaksikan secara kasat mata, sedangkan
sahabat lainnya seperti Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu dan Aisyah
Radhiyallahu Anha menolak padangan itu, hingga beliau
menyampaikan,”Barang siapa mengira bahwa Muhammad menyaksikan Rabb-Nya
maka ia telah berbohong.” Sedangkan sejumlah muhaqiqin memilih tawaquf
dalam masalah ini. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66-67)
Rapuh karena menyandarkan sebuah kayakinan dari perkara yang
diperselisihkan, bahkan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam.
Jika seaindanya pihak yang berpandangan bahwa Allah bertempat di langit
masih memaksakan diri dengan pendapat bahwa Rasulullah Shallallahu
Alalihi Wasalam menyaksikan Allah dengan mata, hak itu juga tidak mampu
“menolong” kayakinannya karena para ulama menjelaskan bahwa penglihatan
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penglihatan yang pantas
bagi kebesaran Allah Ta’ala. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66)
Sedangkan penilaian bahwa Allah berada di sebuah tempat adalah pandangan
yang tidak pantas bagi kebesaran Allah Ta’ala dimana hal itu termasuk
penyerupaan terhadap benda yang terikat dengan tempat. Sebab itulah para
ulama yang mengambil pendapat bahwa Rasulullah Shallallahu Alalihi
Wasallam menyaksikan Allah menjelaskan. Al Allamah Ahmad Al Marzuki Al
Makki Al Maliki telah menyampaikan dalam nadzam akidah beliau yang cukup
terkenal yakni Aqidah Al Awwam:
Artinya: Dan setelah (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) isra’ naik ke langit. Hingga melihat Rabb berfirman. Tanpa kaif dan tanpa terlingkupi dan diwajibkan.
Bagi beliau (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) 5 setelah 50
kewajiban (shalat). (lihat, Aqidah Al Awwam dan Syarhnya Nur Adz Dzalam,
hal. 63)
Pernyataan bahwa Allah berada di langit sama dengan menyatakan bahwa
Allah terlingkupi oleh langit. Allah Ta’ala tidak mungkin terlingkupi
oleh makhluk-Nya termasuk langit atau yang lain karena melingkupi adalah
pembatasan. Bagaimana Allah bisa terbatasi oleh makhluk? Dan hal itu
juga merupakan penyerupaan dzat Allah dengan benda yang selalu terikat
dengan tempat.
Mungkin saja pihak yang berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit
berargumen bahwa mereka juga bisa memperoleh pijakan dari peristiwa
dimana Allah memerintahkan wajibnya shalat langsung kepada Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa Allah berada di langit maski
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menyaksikan dzat Allah.
Dalam hal ini, Al Allamah Nawawi Al Bantani Sayyid Ulama Hijaz telah
menjelaskan masalah ini. Beliau menyampaikan,”Sayyiduna Rasulullah juga
telah mendengar kalam Allah yang qadim pada malam isra’. Dan Allah tidak berada dalam satu tempat atau arah namun tempat bagi yang menyimak.” (Nur Ad Dzalam, hal. 17)
Demikian munajat Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam di Sidratul
Muntaha tidak melazimkan bahwa Allah berada di tempat itu. Syeikh Umar
Abdullah Kamil salah satu ulama Al Azhar menjelaskan bahwa munajat itu
tidak terikat dengan tempat. Maka munajat Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam di Sidratul Muntaha sama dengan munajat Musa Alaihissalam di
bukit Thur yang juga sama dengan munajat Yunus Alaihissalam di perut
ikan khut. (lihat, Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati
Al Awwam, hal. 29)
Walhasil peristiwa mi’raj Rasulullah tidak menunjukkan bahwa Allah
berada di langit, namun menunjukkan bahwa Rasulullah bermunajat di
Sidratul Muntaha dan hal itu tidak berkonsekwensi Allah berada di tempat
yang sama, sebagaimana munajat Musa Alaihissalam di bukit Thur juga
tidak berkonsekwensi bahwa Allah berada di bukit tersebut, demikian juga
munajat Yunus Alaihissalam di perut ikan khut tidak berkonsekwensi
Allah berada di tempat itu.
Demikianlah penjelasan para ulama dalam masalah ini. Semoga kita
terhindar dari keyakinan yang mengakibatkan penyerupaan dzat Allah dan
sifat-Nya terhadap makhluk.
Rujukan:
1. Nur Ad Dzalam Syarh Mandzumah Aqidah Al Awwam oleh Al Allamah Sayyid
Ulama Hijaz Nawawi Al Bantani, cet. 1 (1429 H), Dar Al Kutub Al
Islamiyah, Jakarta.
2. Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati Al Awwam,
dipublikasikan oleh okamel.com, situs resmi Syeikh Umar Abdullah Kamil.
Sumber : http://almanar.wordpress.com/2012/05/24/miraj-rasul-tidak-menunjukkan-allah-taala-di-langit-15/
http://jomfaham.blogspot.com/2012/05/adakah-miraj-rasulullah-menunjukkan.html
Sunday, April 22, 2012
Tanda Matinya Hati
Oleh Ustaz Muhammmad Arifin Ilham
Hati adalah tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.
Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.
Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”
Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).
Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.
Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).
Ketiga, karhul Qur'an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.
Keempat, hubbul ma'asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.
Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.
Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki. Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati
Sumber : Republika
Hati adalah tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.
Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.
Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”
Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).
Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.
Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).
Ketiga, karhul Qur'an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.
Keempat, hubbul ma'asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.
Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.
Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki. Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati
Sumber : Republika
Saturday, April 7, 2012
Syair Habib Ali Al Habsy

Dan siapapun di daerah ini
yang (bersedia) menerima petunjukku
Aku bimbing mereka dengan bimbingan
yang membangkitkan kemauan
Dan cukuplah bagi mereka aku
selalu menjadi pengajak kebaikan
Kejalan kebenaran aku ajak mereka dengan harapan
Agarperkataan, pelajaran, nasihat dan
petunjukku diterima dan diamalkan
Nasihat dan seseorang yang kepada mereka
sangat kasih dan sayang
Nasihat yang menuntun mereka
kejalan kebenaran dan bagi kita
Allah-lah penunjuk jalan kebenaran
Maka terimalah, sambutlah dan dengarkan Kandungan nasihat yang menyedihkan hati
lawan Bertakwalah kepada Allah dan jadikanlah sebagai bekal Karena takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal
Dalam menuntut ilmu yang mulia
curahkanlah perhatianmu
Dengan giat, penuh kesungguhan
dan dengan meninggalkan kebiasaan (buruk)-mu
Di dalam ilmu tersimpan cahaya
dan keindahan yang menghias hati
Dan menuntut ilmu adalah sebaik-baik perbuatan abdi
Dengan ilmu manusia mengetahui hak-hak Tuhannya
Dengannya yang sesat mendapat petunjuk
dan yang (haus) ilmu dipuaskan dahaganya

Jika hendak menghafal apa yang telah kalian pelajari Maka takukanlah dengan rutin dan berulang kali
Janganlah bersahabat dengan mereka yang bertentanganfaham Aku telah saksikan hancurnya seseorang akibat bergaul dengan yang berbeda faham
Persahabatan dengan orang yang jahat
serba diliputi dengan keburukan
menimbulkan akibat yang membahayakan,
kezaliman dan kerusakan
Persahabatan dengan orang baik serba menguntungkan
Keberhasilan dan kejayaan yang didapat tak terhitungkan
Maka kejarlah semua itu, tuntutlah dan raihlah
Karena di dalamnya tersimpan sebaik-baik pilihan
bagi yang mengharap hidayah
Mereka adalah ulama yang arif
Majelis mereka membuat orang sangat bahagia
Dan yang paling menggembirakan hati tetapnya kalian (berpijak pada) Thariqah para leluhurku, keluargaku, dan kakek-kakekku.
Mereka adalah para pendahulu kita
yang telah memusatkan segala usahanya
menuju kepada Allah; mengikuti petunjuk nabi pilihan-Nya
Amal (mereka) bersih dari berbagai penyakit
Dihiasi dengan ilmu, akhlak dan sejumlah besar wirid
Mereka bergegas beramal dengan mencurahkan perhatian
Merekalah para pengabdi Allah dengan ilmu dan kezuhudan

Diwaktu lampau, masih dizamanku, terdapatpara imam Aku tempuhjalan kebenaran berdasar sanad mereka Sanad yang sambung menyambung secara terinci Sampaipada makhluk yang terpuji dan sebaik-baik pemuji
Jalan petunjuk ke arah kebenaran di dalamnya berisi Rahasia penting yang didapat oleh para pewaris nabi Ayah menerima dari ayahnya dan demikian seterusnya Alangkah mulia mereka, para ayah serta putra-putrinya
Dari ayahku, Muhammad, mufti Hijaz
Kudapat petunjuk untuk menuntut ilmu dan menyampaikannya
Beliau imam yang agung, semoga Allah mensucikan simya
Dakwahnya agung berintikan nasihat dan petunjuknya.
Lewat beliau, Allah memberi hidayah sekelompok manusia
Yang karena kebodohannya,
Menjadi jauh dari Allah dan melanggar perintah-Nya
Dengan lemah lembut beliau berdakwah, mereka pun sungguh-sungguh menerima nasihatnya sehingga tersebarlah dakwah keseluruh penduduk kota dan desa.
Beliau melindungiku dan dengan kasih sayang mendidikku Kuberharap perlindungan tetap diberikan kepada para putra dan cucuku

yang kokoh kedudukannya lagi dermawan
telah kuterima petunjuk, penyingkapan rahasia
dan berbagai pemberian
Abii Bakar Al-'Athas pemimpin para wali
Berkat beliau kuraih cita-citaku dan kutaklukkan pendengki
(Ajaran) mereka berdua menjadi landasan tujuan thariqahku Dan siapa pun yang ingin menempuhnya ikutilah cara pendekatanku
Singsingkan lengan bajumu danjangan malas
karena kemalasan dapat menyebabkan tertinggal rombongan
dan tak dapat mendengar ajakan kebaikan
Tidak akan sekali-kali mencapai kemuliaan
Kecuali mereka yang memusatkan
segenap kemauan untuk mendaki puncak pertemuan
Di situ tempat berhenti orang-orang yangpergi menuju Allah
Puncak cita-cita para qutub yang mulia dan wall Allah
Sumber :
Biografi Habib Ali Al Habsy
Subscribe to:
Posts (Atom)